Showing posts with label Farmakologi. Show all posts
Showing posts with label Farmakologi. Show all posts

Diabetes dan Mata


Diabetes melitus (DM) atau kecing manis adalah penyakit yang sering diderita dan dapat menyebabkan kelainan yang cukup serius pada mata yaitu. RETINOPATI DIABETIKA (RD). Dinegara maju RETINOPATI DIBAETIKA (RD) ini merupakan salah satu penyebab kebutaan utama pada usia produktif. Resiko kebutaan akan semakin meningkat sejalan dengan lamanya menderita DM, Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mengenal lebih baik komplikasi DM pada mata dan menegtahui usaha0usaha apa saja yang dapat dilakukan, sehingga dapat mengurangi resiko kebutaan karena RETINOPATI DIABETIKA.

APAKAH SEMUA PENDERITA DM TIMBUL KOMPLIKASI ?

Penelitian menemukan bahwa lamanya menderita DM dalah faktor penting untuk resiko terjadinya RD. DM selama 17-25 tahun punya resiko 90 % untuk terjadinya RETINOPATI DIBAETIKA (RD) . Faktor-fakto yang merupakan faktor resiko adalah Hipertensi, Merokok, penyakit ginjal dan anemia. Diabetes dapat menyebabkan beberapa penyakit mata lainnya seperti katarak dan galukoma.

BAGAIMANA RETINOPATI DIBAETIKA (RD) SEBABKAN KEBUTAAN ?

RETINOPATI DIBAETIKA (RD) dapat menyebabkan kebutaan melalui beberapa meknisme, yaitu : - Kebocoran plasma darah retina yang rusak, sehingga menyebabkan pembengkakan dan kerusakan. - Perdarahan kedalam rongga Vitreus, sehingga menutupi jalannya sinar. - Pembentukan jaringan parut dirongga vitreus sehingga dapat menyebabkan ablasio retina. - Penurunan aliran darah keretina sentral (makula iskemik).
MACAM-MACAM RETINOPATI DIBAETIKA (RD) :

1. RETINOPATI DIBAETIKA (RD) NONPOLIPERATIF
2. RETINOPATI DIBAETIKA (RD) PROLIFERATIF

APAKAH RETINOPATI DIBAETIKA (RD) DAPAT TERKONTROL ?
Kontrol ketat kadar gula darah mengurangi progresitifitas RETINOPATI DIBAETIKA (RD) . Tekanan darah yang terkontrol baik dan fungsi ginjal yang baik dapat juga turut memperbaiki keadaan retinopati.
APAKAH PENGOBATAN LASER DAPAT MENGOBATI RETINOPATI DIBAETIKA (RD) ?
Pengobatan laser sangat penting, tujuan laser adalah untuk menstabilkan dan mencegah progresitifitas penyakit menjadi lebih buruk. Hal yang sangat penting adalah bahwa pengobatan laser tidak selalu memperbaiki jaringan penglihatan. Komplikasi laser dangat jarang terjadi, biasanya timbul rasa tidak nyaman dan arasa silau. Kadang0kadang timbul penurunan penglihatan segera setalh dilakukan laser. Komplikasi lain adalah pendarahan dingin, Makula terkena laser, Glaukoma, Pembengkakan Makula, Penurunan penglihatan Perifer baca dan penurunan penglihatan malam.

KAPAN TINDAKAN OPERASI PERLU DILAKUKAN PADA RETINOPATI DIBAETIKA (RD) ?
Tindakan operasi perlu dilakukan pada keadaan-keadaan sbb : - Perdarah Viterus lama, biasanya setealh 4-6 minggu darah tidak diserap. - Terdapat pelepasan, lapisan retina, terutama yang mengenai daerah makula. - Adanya komplikasi glaukoma.
- Infeksi
- Pelepasn Retina (2-3 %)
- Perdarahan ulang sampai 50 %

APA PERAN PENDERITA ?
- Menjaga kadar gula darah terkontrol
- Tidak merokok
- Mengurangi gerakan-gerakn yang dapat menyebabkan perdarahan
- Kontrol mata secara teratur.
- Penglihatan penderita Diabetes Melitus biasanya dapat diselamatkan.
- RETINOPATI DIBAETIKA (RD) dapat terjadi tanpa memberikan gejala
- Deteksi dini adalah untuk mencegah dari kebutaan.
- Pengobatan laser dan operasi dapat sangat efektif pada pengobatan RETINOPATI DIBAETIKA (RD) .

Anti Aritmia

Denyut jantung yang tidak normal disebut aritmia yang berupa braikardi ( frekuensi denyut kurang dari 60 kali tiap menit) atau takikardi (denyut lebih dari 120 kali tiap menit). Penyebab aritmia bermacam-macam antara lain bawaan sejak lahir, penyakit jantung koroner, dan gangguan jantung yang lain,atau karena penyebab khusus seperti hipertiroid atau karena efek obat antikolinergik.

Gangguan ritme jantung sering terjadi, namun tidak selalu memerlukan pengobatan, namun jika mempengaruhi efektifitas pompa jantung, pengobatan baru diperlukan. Obat yang dipakai dapat single dose, pada saat terjadi serangan atau diminum teratur untuk mencegah terjadinya serangan.
Banyak sekali jenis obat yang digunakan sebagai antiaritmia, antara lain digitalis, beta bloker, dan kalsium bloker, selain itu juga dapat menggunakan obat seperti lidokain, disopiramide, prokainamid, dan quinidin. Semua antiaritmia tersebut mempengaruhi signal listrik pada jantung, tetapi tiap-tiap obat atau golongan memepngaruhinya dengan jalan yang berbeda-beda. Digitalis menghambat(mengurangi) impuls listrik pada AV node, beta bloker mengurangi kemampuan tranmisi elektrik dari pace maker, kalsium bloker mengurangi kontraksi otot jantung. Obat-obat lain seperti quinidin dan disopiramid menurunkan kepekaan sel-sel otot jantung terhadap impuls listrik.
Obat-obat yang sering digunakan untuk aritmia :
  • Beta bloker
  • Penghambat Kanal Kalsium
  • Digoksin
  • Obat-obat lain, seperti disopiramide, lidokain, quinidin dan prokainamid.

Sumber:Farmakologi Dasar

Analgetik Narkotik

Analgetik merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. nyeri perlu dihilangkan jika telah mengganggu aktifitas tubuh. nyeri juga sebenarnya berfungsi sebagai tanda adanya penyakit atau kelainan dalam tubuh dan merupakan proses dari penyembuhan ( inflamasi ).

Ada dua jenis analgetik, analgetik narkotik dan analgetik non narkotik. Selain berdasarkan struktur kimianya, pembaian di atas juga didasarkan pada nyeri yang dapat dihilangkan. analgetik narkotik dapat menghilangkan nyeri dari derajat sedang sampai hebat (berat), seperti karena infark jantung, operasi (terotong), viseral (organ), dan nyeri karena kanker.
Analgetik non narkotik berasal dari golongan anti inflamasi non steroid (AINS) yang menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Disebut AINS karena selain sebagai analgetik, sebagian anggotanya memiliki efek antiinflamasi dan penurun panas (antipiretik), dan secara kimiawi bukan steroid. Oleh karena itu AINS sering disebut (analgetik, antipiretik dan antiinflamasi) atau 3A.
Minimal ada 4 perbedaan antara AINS dengan analgetik narkotik, yakni :
  • Struktur kimianya tidak mirip morfin, bahkan masing-masing golongan AINS juga tidak mirip.
  • Tidak efektif untuk nyeri hebat, nyeri viseral, dan nyeri terpotong.
  • Bekerja secara sentral (SSP) dan atau perifer.
  • Tidak menimbulkan toleransi dan addiksi (ketergantungan).

ANALGETIK NARKOTIK

Analgetik narkotik merupakan turunan opium yang berasal dari tumbuhan Papaver somiferum atau dari senyawa sintetik. Analgetik ini digunakan untuk meredakan nyeri sedang sampai hebat dan nyeri yang bersumber dari prgan viseral. Penggunaan berulang dan tidak sesuai aturan dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan. Toleransi ialah adanya penurunan efek, sehingga untuk mendapatkan efek seperti semula perlu peningkatan dosis. Krena dapat menimbulkan ketergantungan, obat golongan ini diawasi secara ketat dan hanya untuk nyeri yang tidak dapat diredakan oleh AINS.

Nyeri minimal disebabkan oleh 2 hal, yaitu iritasi lokal (menstimuli saraf perifer) dan adanya persepsi(pengenalan) nyeri oleh SSP. Pngenalan nyeri bersifat psikologis terhadap adanya nyeri lokal yang disampaikan ke SSP. Analgetik Narkotik engurangi nyeri dengan menurunkan persepsi nyeri atau menaikan nilai ambang rasa sakit. analgetik narkotik tidak mempengaruhi saraf perifer, nyeri tetap ada tetapi dapat diabaikan atau pasien dapat mentolerirnya. Untuk mendapatkan efek yang maksimal analgetik narkotik harus diberikan sebelum nyeri yang hebat datang, seperti sebelum tindakan bedah.

Semua analgetik narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat,tetapi potensi, onzet, dan efek sampingnya berbeda-beda secara kualitatif maupun kuantitatif. Efek samping yang paling sering adalah mual, muntah, konstipasi, dan ngantuk. Dosis yang besar dapat menyebabkan hipotensi serta depresi pernafasan.

Morfina dan petidin merupakan analgetik narkotik yang paling banyak dipakai untuk nyeri hebat walaupun menimbulkan mual dan muntah. Obat ini di Indonesia tersedia dalam bentuk injeksi dan masih merpakan standar yang digunakan sebagai pembanding bagi analgetik narkotika lainnya. Selain menghilangkan nyeri, morfin dapat menimbulkan euforia dan gangguan mental. Berikut adalah contoh analgetik narkotik yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia :

  • morfin HCl,
  • Kodein(tunggal atau kombinasi dengan parasetamol)
  • fentanil HCl
  • Petidin, dan
  • Tramadol

Khusus untuk tramadol secara kimiawi memang tegolong narkotik tetapi menurut undang-undang tidak, karena kemungkinan menimbulkan ketergantungan kecil.

Sumber : Farmakologi Dasar

TBC Bukan Bakteri Biasa!!!

“Every Breath Counts, Stop TB Now”. Demikianlah tema besar dari peringatan Hari TBC Sedunia pada 24 Maret 2009 ini. Bila dihayati memang demikianlah adanya, nafas adalah yang menggerakkan kehidupan, jika terjadi gangguan pada nafas, niscaya irama kehidupan pun akan terganggu. Meski sebenarnya bakteri TBC juga bisa menyerang seluruh organ tubuh manusia seperti otak, tulang dan kelenjar, jadi bukan cuma organ paru-paru saja.

Bakteri yang TangguhAgak berbeda dengan bakteri penyebab penyakit lain, bakteri TBC memiliki dinding sel yang sebagian besar tersusun dari asam mikolik dengan cabang molekul lipid yang memberikan penghalang tak tembus di sekitar sel. Lipid inilah yang membuat bakteri lebih tahan terhadap asam dan gangguan fisika kimia. Selain itu pada kondisi tidur, bakteri TBC dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun dalam udara kering maupun dingin. Setelah bangkit dari keadaan tidur, bakteri dapat kembali aktif seperti sedia kala.

Pertumbuhan bakteri TBC berlangsung secara lambat, yakni setiap sekitar 15 sampai 20 jam, sementara bakteri pada umumnya mampu berkembang biak dalam hitungan menit, misalnya saja Escherichia coli yang mampu tumbuh setiap 20 menit. Bakteri yang sedang tidur dapat membelah jika diberi antibiotik, itu sebabnya obat TBC diberikan selama enam bulan terus menerus. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa semua bakteri TBC dalam tubuh baik yang aktif maupun tidur telah mati.Bakteri TBC dapat menghasilkan enzim beta laktamase yang memberinya kekebalan terhadap antibiotik dari golongan beta laktam seperti penisilin dan sefalosporin.

Namun demikian mekanisme kekebalan ini dapat diatasi dengan menambahkan penghambat enzim beta laktamase pada obat TBC.Pada umumnya kekebalan disebabkan oleh penguraian obat anti-bakteri oleh enzim atau protein tertentu dari bakteri TBC. Proses ini berawal dari jumlah yang sedikit dan kemudian perlahan-lahan bertambah seiring waktu. Telah banyak kasus kekebalan bakteri terhadap berbagai obat anti TBC, termasuk florokuinolon yang pada awal penemuannya sangat diharapkan. Demikianlah, manusia telah sekian lama berperang melawan bakteri tangguh ini.

Perang Panjang Melawan TBCPemberantasan TBC telah melewati berbagai fase. Era kemoterapi dalam pemberantasan TBC dimulai sejak penemuan streptomisin pada 1944 oleh Albert Schatz dan Selman Waksman. Senyawa yang ditemukan kemudian antara lain, isoniazid pada 1952 dan rifampisin pada 1967. Antimikroba yang merusak sintesis protein bakteri seperti makrolida, aminoglikosida dan rifampisin; serta antimikroba yang dapat menghambat pelipatan DNA bakteri seperti kuinolon, dapat pula digunakan untuk melawan bakteri TBC.

Penemuan-penemuan senyawa anti TBC kemudian mengarah pada terapi kombinasi obat TBC yang digunakan sampai saat ini. Dengan adanya kombinasi obat, kemungkinan kekebalan dapat dikurangi. Jika obat seperti rifampisin atau pirazinamid digunakan secara tunggal, kekebalan bakteri TBC dapat muncul hanya dalam jangka waktu enam sampai delapan minggu.

Penanganan TBC masih terus menjadi tantangan besar untuk para tenaga kesehatan. Untuk memutuskan rantai penularan perlu pula mendapati perhatian lintas sektoral karena berkaitan dengan faktor sosial budaya dan tempat hunian. Namun pada dasarnya penyakit TBC bisa disembuhkan secara tuntas apabila pasien mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk minum obat secara teratur dan rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Selain itu diperlukan juga kepedulian dan pengawasan dari tenaga kesehatan untuk mengawal perkembangan terapi pasien.

Penyebab TBC memang bukan bakteri biasa, karena itu diperlukan konsistensi dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi untuk mencapai hasil terapi yang optimal.

http://en.wikipedia.org/wiki/Tuberculosis

Definisi Farmakologi

Farmakologi berasal dari kata “pharmacon” (obat) dan logos (ilmu pengetahuan), sehingga secara harapiah farmakologi berarti ilmu pengetahuan tentang obat. Namun, secara umum farmakologi di definisikan sebagai ilmu yang mempelajari obat dan cara kerjanya pada system biologi. Disamping itu juga mempelajari asal-usul (sumber) obat, sifat fisika-kimia, cara pembuatan, efek biokimiawi dan fisiologi yang dtimbulkan, nasib obat dalam tubuh, dan kegunaan obat dalam terapi.

Definisi yang lain adalah zat kimia yang dapat mempengaruhi jaringan biologi, dan menurut WHO, obat adalah zat yang dapat mempengaruhi aktifitas fisik atau psikis. Sedangkan menurut Kebijakan Obat Nasional (KONAS) ialah bahan atau sediaan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki system fisiologi atau kondisi patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dari rasa sakit, gejala sakit, dan atau penyakit, untuk meningkatkan kesehatan, dan kontrasepsi. Oleh karena itu, pengertian obat meliputi bahan dan sediaan obat yang terwada-kemaskan, diberi label dan penandaan yang memuat pernyataan dan atau klaim. Dalam pengertian KONAS obat meliputi obat untuk manusia dan hewan.

Farmakoterapi atau terapi dengan obat mempunyai cakupan yang lebih luasa dibandingkan farmakologi. Farmakoterapi tidak berhubungan dengan cara pemberian, penilaian pasien, dan keputusan klinik. Pengetahuan farmakoterapi bagi paramedic juga sesuatu yang penting berkaitan dengan pemberian obat, efek samping yang kemungkinan timbul karena pemberian obat, dan pemberian obat kepada pasien. Untuk itu, pemahaman dan pengetahuan farmakologi mengenai cara pemberian, jenis-jenis obat, cara kerja obat, dan kegunaan obat adalah hal-hal penting yang harus diketahui oleh paramedic.

Dari uraian di atas, farmakologi dan farmakoterapi adalah suatu ilmu yang mempelajari aspek sangat luas, dan berhubungan erat dengan banyak. Bidang-bidang itu antara lain kimia, botani, fisiologi, patologi, mikrobiologi, dan toksikologi.

Antibiotika Dengan Penggunaan Tak Rasional

Keberhasilan penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner dan penemuan penisilin telah membuka lembaran baru dimulainya penemuan bermacam-macam antibiotik yang baru dan lebih baru lagi. Hal inilah yang menimbulkan kepercayaan dan harapan yang besar terhadap antibiotik untuk selalu berhasil dalam membunuh kuman dan menyembuhkan penyakit infeksi. Kepercayaan yang berlebihan ini menimbulkan overuse dan missuse dari antibiotika.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Ilmu Kesehatan di Universitas Colorado, Denver (AS) menemukan, dari 28.700 pasien dewasa yang datang berobat ke dokter pada tahun 1992 karena flu, ternyata 70 persennya mendapat resep antibiotik. Sebagaimana diketahui penyebab utama infeksi saluran pernapasan atas tersebut adalah virus. Sementara antibiotik sebenarnya ditujukan untuk melawan bakteri, bukan virus.
Majalah Medical Tribune Dews Service edisi September 1997 dalam laporannya mendapati sekitar 12 juta resep antibiotik ternyata dibuat untuk mengobati virus penyebab ISPA. Jumlah ini diperkirakan “hanya” 21 persen dari total resep antibiotik pada tahun itu.
Pola menyimpang inilah yang akhirnya menimbulkan percepatan dan perluasan resistensi. Ini bukanlah masalah pribadi Amerika Serikat saja, tetapi sudah menjadi urusan seluruh dunia, problem global. Antibiotik beta laktam adalah salah satu antibiotik yang paling banyak diresepkan di muka bumi, dengan akibat menjadi antibiotik yang paling banyak menemukan problem resistensi.

Fatal,Kesalahan Penggunaan Antibiotik

Kita tahu antibiotik merupakan obat mujarab untuk menghilangkan rasa sakit. Tapi tidak semua orang tahu bahwa antibiotik tidak bisa digunakan untuk mengobati semua penyakit alias tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Salah-salah bisa berakibat fatal atau sampai kepada alergi terhadap antibiotik.
Sayangnya, masyarakat justru mengindahkan penggunaan bahwa antibiotik tidak boleh digunakan secara sembarangan. Ketika demam dan flu menyerang, obat antibiotik selalu menjadi rujukan. Bahkan luka terjatuhpun tidak lengkap obat jika tanpa antibiotik.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes menjelaskan, bahan antibiotik pertama ditemukan Alexander Fleming pada 1928. Kemudian, pada 1940-an antibiotik mulai digunakan secara luas. Waktu itu, para ilmuwan dunia memprediksi, dengan ditemukannya antibiotik, pada 1960-an dunia diprediksi bersih dari penyakit infeksi.
Namun, bukannya penyakit infeksi teratasi, justru jenis bakteri baru muncul akibat resistensi terhadap penggunaan antibiotik. Bahkan, pada 1990, kata Fachmi, pernah terjadi post antibiotika era. "Suatu keadaan yang antibiotik tidak berfungsi lagi. "Waktu itu, di antara 20 jenis antibiotik yang ada, hanya satu yang bisa mengobati penyakit infeksi,"jelasnya.
Pada 2001, World Health Organization (WHO) menyampaikan keprihatinan yang tinggi terhadap perkembangan bakteri resisten. WHO pun menyatakan global alert atau perang melawan bakteri resisten.
Fachmi juga mengungkapkan, penelitian di dua rumah sakit besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik secara tidak bijak mencapai 80 persen. Kasus di RSU dr Soetomo, lanjut Kuntaman, angka resisten terhadap antibiotik lini pertama (penyakit infeksi ringan) bisa mencapai 90 persen dan lini kedua (infeksi sedang) mendekati 50 persen. Dalam disertasinya yang dirilis beberapa waktu lalu, Kuntaman juga menyebutkan, angka bakteri penghasil extended spectrum beta lactamase (ESBL, jenis bakteri yang sulit diobati) mencapai 29 hingga 36 persen. "Bandingkan dengan Belanda yang angkanya kurang dari satu persen," sebut pria yang bekerja di laboratorium mikrobiologi RSU dr Soetomo itu.
Karena itu, bila antibiotik tidak digunakan secara tepat, post antibiotika era diprediksi bisa terjadi pada masa depan. "Bayangkan saja, bila tidak ada satu pun obat yang mampu mengatasi penyakit infeksi," ujarnya.
Menurut Fachmi, tingginya penggunaan antibiotik di rumah sakit akan meningkatkan angka resistensi bakteri di tempat itu. "Yang pada akhirnya menyulitkan terapi," tegasnya. Bahkan, bakteri lebih mudah mutasi, yang berarti lebih cepat resisten terhadap berbagai antibiotik.
Prof dr R Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK, pengajar gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, menjelaskan, antibiotik adalah obat yang dapat digunakan untuk membunuh kuman, virus, cacing, protozoa, dan jamur. "Biasanya, jika mengalami sakit dan disebabkan beberapa hal tersebut, obatnya antibiotik," ujar Bambang.
Tidak hanya itu. Antibiotik dibutuhkan saat seseorang sakit disertai demam. Jika sakitnya tidak disertai demam, belum tentu mereka membutuhkan antibiotik. Agar tidak sembarangan dalam penggunaannya, sebaiknya masyarakat mengetahui jenis antibiotik. Di antaranya, tetracyclin yang digunakan untuk infeksi, sakit gigi, dan luka. Jenis chloramphenicol digunakan untuk penyakit tifus. Jenis griseofulfin digunakan untuk membunuh jamur serta combantrin untuk membunuh cacing.
Ada juga narrow spectrum,yang berguna untuk membunuh jenis bakteri secara spesifik. Antibiotik yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin. Jenis kedua ialah broad spectrum untuk membunuh semua jenis bakteri di dalam tubuh. "Dianjurkan untuk menghindari mengonsumsi antibiotik jenis ini," jelasnya.
Sebab, jenis antibiotik itu juga membunuh bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh. Antibiotik yang termasuk kategori itu adalah cephalosporin. Penyakit yang disebabkan virus tidak dapat diberikan antibiotik. Misalnya, sakit flu atau pilek. Sebab, antibiotik tidak dapat membunuh virus karena virus dapat mati sendiri, asal daya tahan tubuh penderita meningkat atau membaik. Meski begitu, dalam perkembangannya, saat ini ada antibiotik yang dikembangkan untuk membunuh virus.
Namun itu justru akan membahayakan. Penggunaan antibiotik tidak pada tempatnya dan berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Misalnya, mengakibatkan gangguan saluran pencernaan (diare, mual, muntah). Khawatir masyarakat awam yang tidak paham, mempergunakan dosis antibiotik ini untuk segala jenis penyakit.
Penderita bisa mengalami reaksi alergi. Mulai yang ringan seperti ruam dan gatal hingga berat seperti pembengkakan bibir, kelopak mata, sampai gangguan napas. Sebab, bisa jadi penderita alergi dengan antibiotik tersebut.
Efek yang terjadi bisa ringan hingga berat. Pasien bisa mengalami anaphylatic shock atau shock karena penggunaan antibiotik tersebut. Lebih berbahaya lagi, obat itu juga bisa mengakibatkan kelainan hati. Seperti diketahui, antibiotik memiliki bahan dasar kimia. Selain berfungsi membunuh kuman, bahan kimia tersebut harus dinetralkan tubuh supaya aman. Caranya adalah dengan memecah bahan kimia itu.
Karena itu, masyarakat luas perlu memahami fungsi dan kemampuan dari obat antibiotik. Baik waktu pemakaian maupun dosis. Dengan demikian, pemakaian bisa dilakukan secara tepat dan rasional.
Dalam kasus ini yang paling memahami adalah kalangan medis. "Termasuk, upaya pemerintah dalam melakukan pengawasan di lapangan supaya antibiotik tidak beredar secara bebas," kata Fachmi. Karena sebagai regulator, posisinya bisa mencegah penjualan antibiotika secara bebas di pasar.
Sumber: Indosiar.com